Jakarta, 12 Januari 2006 – Business Software Alliance (BSA) mengeluarkan hasil dari Studi Pengembangan Piranti Lunak Domestik 2005 yang menyoroti pandangan dari praktisi profesional teknologi informasi (TI) di Asia mengenai perkembangan industri piranti lunak domestik, disertai dengan statistik yang menggambarkan pandangan dari praktisi profesional TI di Indonesia.
Kesimpulan kunci dari survei tersebut adalah bahwa praktisi profesional teknologi informasi di Asia meyakini bahwa pemerintah perlu untuk mengambil peranan penting dalam memfasilitasi pengembangan dari industri piranti lunak domestik terutama dalam pelatihan dan pendidikan. Para praktisi professional TI lebih menyukai bila kebijakan atau regulasi ditetapkan oleh industri dibandingkan kebijakan yang berlandas dari pemerintah. Praktisi professional TI melihat peranan pemerintah sebagai pendorong lingkungan kompetisi bebas dimana semua perusahaan dapat berkompetisi secara bebas dalam pasar.
Survei menggambarkan bahwa terdapat kesadaran yang substansial diantara praktisi professional TI di Asia mengenai ketersediaan akan open source untuk pengembangan piranti lunak, tetapi tingkat dan pemahaman yang mendalam mengenai piranti open source dan piranti lunak komersil memiliki pandangan yang beragam. Terdapat harapan akan solusi piranti lunak open source dapat memberikan pilihan yang lebih luas. Merupakan kepercayaan yang umum bahwa piranti lunak open souce dan model piranti lunak komersil dapat dan harus dapat hadir berdampingan.
“Survei seperti ini adalah bagian dari upaya BSA untuk membantu mengumpulkan data dan riset terhadap isu spesifik atau unik untuk Asia, dimana belum terdapat informasi yang cukup. Survei ini merupakan satu langkah kedepan untuk memenuhi celah yang ada,” kata Seow Hiong Goh, Direktur BSA untuk Kebijakan Piranti Lunak (Asia). “Survei ini mencakup statistik di Asia yang menggambarkan pandangan yang lebih luas dan kebutuhan praktisi di seluruh wilayah ini, dan statistic yang spesifik yang menyoroti pandangan unik di tiap negara dan perbedaan akan prioritas antara negara-negara di Asia.”
Survei tersebut meliputi delapan negara di Asia – China, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Thailand, dan Vietnam- untuk menyediakan pertukaran wakil di antara negara di Asia. Seratus praktisi profesional TI non-pemerintah diwawancara untuk survei ini di setiap negaranya dengan total delapan ratus praktisi profesional TI untuk seluruh negara. Praktisi professional TI yang dipekerjakan oleh pemerintah tidak dimasukkan ke dalam studi.. Praktisi professional TI yang dikaji ialah individu yang merupakan eksekutif, direktur, manajer, officer TI, dimana fungsi tugas utamanya ialah pekerja penuh di bidang TI, pengembangan piranti lunak, sistem informasi atau departemen MSI (Manajemen Sistem Informasi) di organisasi swasta. Survei tersebut dipimpin oleh IPSOS Urusan Publik, sebuah perusahaan riset dan survei independent yang ditugasi oleh BSA.
Melalui survey tersebut, BSA berharap untuk menyediakan wawasan dan dasar kepada para pembuat kebijakan untuk analisa terkait akan pertimbangan strategi dan kebijakan nasional.
# # #
About BSA
Business Software Alliance (www.bsa.org) merupakan organisasi terkemuka yang secara konsisten mendukung penciptaan dunia dijital yang aman dan legal. BSA mewakili industri peranti lunak komersial dunia serta para mitranya di industri peranti keras dalam interaksinya dengan pihak pemerintah serta dalam pasar internasional. Para anggota BSA mewakili salah satu industri dengan perkembangan terpesat di dunia. Program yang dilaksanakan oleh BSA mendukung perkembangan teknologi melalui pendidikan serta penciptaan kebijakan yang mencakup isu perlindungan hak cipta, keamanan dunia maya serta e-commerce. Anggota BSA meliputi Adobe, Apple, Autodesk, Avid, Bentley Systems, Borland, Cadence Design Systems, Cisco Systems, CNC Software/Mastercam, Dell, Entrust, HP, IBM, Intel, Internet Security Systems, McAfee, Microsoft, Minitab, PTC, RSA Security, SAP, SolidWorks, Sybase, Symantec, Synopsys, The MathWorks, Trend Micro and UGS. Local members in Asia include Agilent (Taiwan), Altium (China), Andal Software (Indonesia), ARM (Taiwan), Biztrak (Malaysia), Cimatron Technologies (Taiwan), Electric Angels (Malaysia), Innodium (Malaysia), Justsystem (Japan), Morisawa (Japan), National Instruments (Taiwan), SAP (Taiwan), Software Industry Information Centre (Hong Kong), Syscom Computer (Taiwan) and UBS Corporation (Malaysia).
Hubungi
Crivenica Alam atau Ratnasari Dewi (021) 727 898 33, crivenica@maverick,co.id, dewi@maverick.co.id












